Minggu, 06 Januari 2013

Sejarah Indische partij

PERGERAKAN NASIONAL
INDISCHE PARTIJ
Pada saat menginjak abad 20 ,sistem kolonial di Indonesia banyak sekali mengalami perkembangan baik di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Hal ini juga secara langsung mempengaruhi bangsa Indonesia. Sejak adanya politik etis pada awal tahun 1900 yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer, banyak sekali lahir golongan elit terpelajar di Indonesia. Politik etis merupakan bentuk politik balas budi pemerintah Belanda terhadap bangsa Indonesia yang telah dipolitisasi. Berkat politik etis, bangsa Indonesia dapat memperoleh pendidikan / edukasi sehingga dicapai kesadaran emansipasif bangsa.Karena banyaknya kaum terpelajar yang ada ,maka seiring waktu lahirlah organisasi-organisasi yang bergerak di berbagai bidang, baik politik maupun bidang lainnya yang mengarah kepada kemerdekaan negara Indonesia. Hal-hal tersebut adalah waktu di mana perjuangan mencapai Indonesia merdeka dimulai. Pergerakan nasionalisme Indonesia dipengaruhi oleh adanya kaum terpelajar yang telah banyak bergaul dengan bangsa luar sehingga membuka mata mereka tentang kesadaran akan perasaan senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa yang memiliki hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri (self-determination).Budi Utomo adalah organisasi pertama yang berdiri di Indonesia. Namun, keanggotaan dalam Budi Utomo masihlah terbatas dan belum ada tanda-tanda perjuangan kemerdekaan.

Pada tanggal 25 Desember 1912, berdirilah sebuah partai politik pertama di Indonesia. Partai ini adalah partai yang secara terang-terangan memiliki tujuan untuk mencapai kemerdekaan bagi Indonesia. Ini adalah salah satu perwujudan dari adanya rasa nasionalisme anak-anak bangsa untuk menuntun ke arah kemerdekaan dan juga menggerakan bangsa agar sadar untuk bersatu demi kemerdekaan. Partai inilah yang mengawali politik anak bangsa meski salah satu pendirinya adalah seorang Indo. Partai ini adalah “Indische Partij”. Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Melalui partai ini,Ernest Douwes Dekker mendesak pemerintah untuk mengubah garis kebijaksanaan yang ditempuh. Organisasi ini mempunyai cita-cita untuk menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan asli maupun golongan Indo, Cina, Arab dan sebagainya. Mereka akan dipadukan dalam kesatuan bangsa dengan semangat nasionalisme Indonesia.
Cita-cita Indische Partij banyak disebarluaskan melalui surat kabar De Express. Di samping itu juga disusun program kerja sebagai berikut :
a. Menyerapkan cita-cita nasional Hindia (Indonesia).
b. Memberantas kesombongan social dalam pergaulan baik di bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan.
c. Memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dengan yang lain.
d. Memperbesar pengaruh pro-Hindia di lapangan pemerintahan.
e. Berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia.
f. Dalam hal pengajaran, kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi Hindia dan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.
Politik "Etis" yang dilaksanakan Belanda sejak awal abad ke-20 dihantamnya. Seperti diketahui, garis "politik etis" itu tidak lagi memperlakukan Hindia-Belanda sebagai daerah eksploitasi, sapi perahan untuk kemakmuran negeri Belanda, tetapi dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat pribumi. Fokus politik ini adalah edukasi- irigasi-transmigrasi-desentralisasi. Namun, Ernest Douwes Dekker mengemukakan, bukan begitu caranya untuk menjaga agar Belanda tak kehilangan tanah jajahannya. Menurutnya, yang diperlukan adalah pemerintahan sendiri, self-rule, untuk penduduk Indiƫ sendiri, karena merekalah yang lebih tahu dan mengerti kepentingannya sendiri. Di sini untuk pertama kalinya disuarakan gagasan untuk memerintah diri sendiri. Berbeda dengan perlawanan-perlawanan terhadap Belanda sebelumnya yang ditujukan kepada restauration, mengembalikan Hindia Belanda kepada kekuasaan tradisional, sekarang mulai dikumandangkan keinginan untuk mandiri, mengurus dan menentukan nasib sendiri.
Tulisan Ernest Douwes Dekker semakin radikal dan dalam dekade kedua abad ke-20 masyarakat tanah jajahan diajak untuk bergerak-Kameraden, stookt de vuren! (Kawan-kawan, nyalakanlah api!). Gagasan-gagasan demikian yang muncul dalam pers Hindia-Belanda mendapat perhatian bukan hanya di kalangan kaum Indo, tetapi juga di kalangan pribumi yang sudah mendapat pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda, di antaranya Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Bersama kedua tokoh ini Ernest Douwes Dekker mengadakan aksi antikolonial sehingga mereka sering dianggap sebagai tiga serangkai. Dalam hubungan ini tiga serangkai memelopori gerakan politik dengan resmi membentuk Indische Partij atau Partai Hindia.
Asas perjuangan Indiche Partij adalah nasionalisme dan kooperatif. Semboyannya berbunyi : Indie los van Holland (Hindia bebas dari Holland) dan Indie voor Inders (Hindia untuk orang Hindia). Keanggotaanya bersifat terbuka bagi semua orang tanpa pandang bulu, dengan tujuan: - membangkitkan rasa cinta tanah air Indonesia - membangun kerja sama untuk kemajuan tanah air - mempersiapkan tanah air bagi kehidupan bangsa yang merdeka Propaganda dilakukan di mana-mana bahkan ke seluruh Jawa baik secara lisan maupun tertulis. Propaganda Indische Partij ini disambut dengan antusias oleh orang-orang yang anti penjajah sehingga partai ini sudah memiliki 30 cabang di seluruh Jawa. Para pemimpin Indische Partij berusaha mendaftarkan status badan hukum dari Indische Partij kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui sidang parlemen tetapi pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg (wakil pemerintah Belanda di negara jajahan). Alasan penolakkanya adalah karena organisasi ini dianggap oleh pemerintah kolonial pada saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Dalam tindak-tanduknya ,ketiga tokoh pendiri partai ini sudah diperhatikan oleh pemerintah Belanda. Tindakan-tindakan ini mulai nyata pada 21 Maret -23 Maret 1913 , ketika Belanda akan merayakan upacara peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis (Napoleon) dengan menggunakan pungutan dana dari Hindia Belanda. Melalui majalah De Express, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah artikel yang mengkritik pemerintah Belanda dengan judul "Als ik eens Nederlander was" (Jika Aku Seorang Belanda). Berikut kutipannya “………Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun .
Seandainya aku seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu.Aku akan peringatkan kawan-kawan penjajah ,bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua bangsa Belanda jangan menyinggung peradaban bangsa Indonesia yang baru bangun dan menjadi berani.Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”Akibat dari tindakan yang radikal melalui artikel tersebut ,pemerintah Belanda dibuat resah dan pada tanggal 31 Maret 1913 , tiga serangkai diasingkan (diinternir). Douwes Dekker dibuang ke Timor (Kupang).Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda sedangkan Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tidak lama kemudian mereka dieksternir (diasingkan) ke Belanda, namun pada tahun 1914 ,Cipto Mangunkusumo diizinkan kembali karena masalah kesehatan. Pada tahun 1917 Douwes Dekker dibebaskan dari hukuman dan Suwardi Suryaningrat pada tahun 1918 ,lalu kembali ke Indonesia.Bersamaan dengan waktu pengasingan 3 serangkai dimulai, pemerintah Hindia Belanda telah membubarkan Indische Partij. Partai ini sudah dilarang karena sikapnya yang radikal untuk menuntut kemerdekaan ,namun perjuangan masih terus berlanjut.
Indische Partij berganti nama menjadi partai Insulinde dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische Partij (NIP). NIP tidak pernah mempunyai pengaruh yang besar di kalangan rakyat dan akhirnya hanya merupakan kumpulan orang-orang terpelajar. Pengalaman di pengasingan atau dibuang tidak membuat tokoh-tokoh 3 serangkai jera dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Keistimewaan Indische Partij adalah usianya yang pendek, tetapi anggaran dasarnya dijadikan program politik pertama di Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (alias Setyabudi) di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 dan merupakan organisasi campuran Indo dengan bumi putera. Douwes Dekker ingin melanjutkan Indische Bond, organisasi campuran Asia dan Eropa yang berdiri sejak tahun 1898. Indische Partij, sebagai organisasi politik semakin bertambah kuat setelah bekerja sama dengan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketiga tokoh ini kemudian dikenal dengan
sebutan “Tiga Serangkai”.
E.F.E. Douwes Dekker berpendapat bahwa hanya melalui kesatuan aksi melawan kolonial, bangsa Indonesia dapat mengubah sistem yang berlaku, juga keadilan bagi sesama suku bangsa merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat antitesis antara penjajah dan terjajah, penguasa dan yang dikuasai. E.F.E. Douwes Dekker berpendapat, setiap gerakan politik haruslah menjadikan kemerdekaan yang merupakan tujuan akhir. Pendapatnya itu disalurkan melalui majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Espres.
Sementara itu, E.F.E. Douwes Dekker banyak berhubungan dengan para pelajar STOVIA di Jakarta. Karena ia menjadi redaktur Bataviaasch Nieuwsblad maka tidak mengherankan kalau ia banyak berkenalan dan memberi kesempatan kepada penulis-penulis muda dalam surat kabar.
Menurut Suwardi Suryaningrat, meskipun pendiri Indische Partij adalah orang Indo, tetapi tidak mengenal supremasi Indo atas bumi putera, bahkan ia menghendaki hilangnya golongan Indo dengan meleburkan diri dalam masyarakat bumi putera.
Perjuangan untuk menentang perbedaan sosio-politik inilah yang menjadi dasar tindakan Suwardi Suryaningrat selanjutnya dengan mendirikan Taman Siswa (1922) dan menentang Undang-Undang Sekolah Liar (1933). Di sisi lain, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo meneruskan perjuangannya yang radikal, walaupun ia dibuang bersama E.F.E. Douwes Dekker ke Belanda tahun 1913. Pada tahun 1926 ia dibuang lagi ke Banda dan sebelumnya dipenjarakan dua tahun di Bandung. Sebelum Jepang masuk ia dibebaskan dari penjajah dan pada tahun 1943 ia meninggal dunia.
Tujuan didirikannya Taman Siswa adalah untuk mendidik dan menggembleng golongan muda serta menanamkan rasa cinta tanah air dan semangat antipenjajahan. Taman Siswa berperan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Meskipun menggunakan sistem pendidikan modern Belanda, tetapi Taman Siswa tidak mengambil kepribadian Belanda. Dengan demikian, anak didiknya tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Para guru Taman Siswa berasal dari para aktivis pergerakan nasional. Taman Siswa memiliki tiga semboyan dalam melaksanakan proses pendidikan. Semboyan tersebut berasal dari bahasa Jawa dan mempunyai arti filosofi tentang peranan seseorang. Berikut ini ketiga semboyan tersebut..
Walaupun usia Indische Partij sangat pendek, tetapi semangat jiwa dari dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat sangat besar berpengaruh bagi para pemimpin pergerakan pada waktu itu, terlebih lagi Indische Partij menunjukan garis politiknya secara jelas dan tegas serta menginginkan agar rakyat Indonesia dapat menjadi satu kesatuan penduduk yang multirasial. Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan oleh pemerintah kolonial.
Tindakan-tindakan ini terlihat nyata ketika pada tahun 1913, peemrintah Belanda akan mengadakan upacara peringatan 100 tahun bebasnya negeri Belanda dari jajahan Perancis (Napoleon), dengan cara memungut dana dari rakyat Indonesia. Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya.
Propaganda
INDISCHE PARTIJ
Setelah berrdirinya partai itu pada 6 September 1912, langkah pertama yang ditindakkan para pengurusnya adalah mengadakan perjalanan keliling Jawa untuk berpropaganda. Perjalanan itu dimulai dari Bandung oleh E.F.E. Douwes Dekker, Brunsveld van Hulten dan Van der Poel. Tujuan pertamanya ialah Yogyakarta, untuk diteruskan ke Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan dan Cirebon serta kota-kota lain di Jawa Barat.
Dalam perjalanan yang berlangsung antara 15 September s.d. 3 Oktober tersebut tim pengurus mengadakan rapat di setiap kota yang disinggahi. Segera nyata bahwa sambutan masyarakat dan para pemimpin pergerakan masa itu sangat antusias, dibuktikan dengan hadirnya banyak pemimpin pergerakan dalam rapat dan banyaknya perhimpunan yang mengirimkan wakilnya. Tercatat perhimpunan yang menyokong berdirinya IP adalah Budi Utomo, Insulinde, Sarekat Islam, Kartini Klub, Mangunhardjo, dan Perhimpunan Tionghoa Hweekwan.
Para tokoh perhimpunan pun banyak pula yang terjun langsung membantu IP, di antaranya dr. Tjipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat, dan Abdul Haris dari Bandung sebagai ketua cabang sarekat Islam di kota itu. Lebih dari itu terdapat pula beberapa tokoh yang sangat berpengaruh di masyarakat: R. Pramu di Semarang; R. Soleiman di Boyolali; R. Jayadiningrat (saudara Bupati Serang) di Serang; Redaktur surat kabar “Jawa Tengah”, harian “Pengaman”, dan “Tjahaja Timoer” di Malang dengan pimpinan R. Djojo Sudiro; dan G. Topel, seorang anggota pengurus besar Insulinde.
Sesuai dengan nama perkumpulan itu sendiri, IP menawarkan kesempatan menjadi anggota partai kepada masyarakat luas, yaitu kepada siapa pun yang merasa memiliki tanah air Hindia, yang merasa lahir, hidup, dan akan berpulang di negeri ini. Barang siapa tak dapat masuk perhimpunan Budi Utomo (karena kebetulan ia bukan orang Jawa), maka ia dapat diterima menjadi anggota IP. Demikian pula bagi mereka yang non-muslim (yang tak mungkin menjadi anggota Sarekat Islam).
Adalah masih dalam rangka propaganda juga ketika perhimpunan itu berusaha menarik para anggota Insulinde untuk menjadi anggota IP. Pada saat itu Insulinde telah menjadi organisasi yang kecil karena banyak anggotanya mengundurkan diri, terutama yang “Indo-Belanda totok”. Yang terakhir ini keluar dari keanggotaan karena tak mau bergabung dengan Bumi Putera. Rapat gabungan antara E.F.E. Douwes Dekker, Brunsveld van Hulten dan Van der Poel dengan para pengurus Insulinde pada 17 September 1912 menghasilkan peleburan Insulinde ke dalam IP. Sayangnya – meski antara kedua perkumpulan itu memiliki kesamaan azas - Mr. Jeekel tak dapat menerima keputusan para sejawatnya. Sebagai ketua akhirnya ia mengundurkan diri dan keluar dari keanggotaan Insulinde, untuk selanjutnya membentuk perkumpulan lain bernama “Het Nederlandsch Indische” yang pada akhirnya samasekali tidak berkembang.
Tetapi keberhasilan IP meraih DIB tidaklah sesukses meraih Insulinde. Rapat gabungan antara kedua perkumpulan itu pada 28 Oktober 1912 tidaklah menghasilkan apa-apa – bahkan dinilai gagal – karena memang sejak awal azas dan tujuan keduanya berbeda.
Tetapi kegagalan dengan DIB bukanlah sesuatu yang berarti bagi IP. Propaganda demi propaganda yang mereka lakukan membuat jumlah anggota terus bertambah dari hari ke hari. Corong perkumpulan mereka – Koran De Express dan Het Tijdschrijft yang diketuai Douwes Dekker – digunakan secara optimal untuk menarik calon anggota lebih banyak.
Sedikit melihat ke belakang, De Express didirikan Douwes Dekker tanggal 1 Maret 1912 setelah ia meninggalkan Bataviaasch Newsblad pimpinan Jaalberg yang terlalu mementingkan golongan Indo. Sejak berdirinya harian itu Douwes Dekker menyediakan ruangan khusus dalam koran itu untuk propaganda Budi Utomo. Ia menggunakannya sebagai corong bagi cita-cita politiknya. Dan suaranya pun kian bergema manakala ia memimpin pula majalah bulanan Het Tijdschrift.
Teristimewa sejak bulan Maret itu para pembaca telah disuguhi tulisan-tulisan dan opini yang isinya seolah merupakan ancang-ancang pimpinannya untuk mendirikan suatu partai yang bersifat nasionalis. Tulisan-tulisan dan opini itu pada dasarnya isinya berkisar pada tiga hal yang saling berhubungan:
1. Pelaksanaan suatu program Hindia untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan menghapuskan kolonialisme;
2. Menyadarkan golongan Indo dan penduduk bumi putera bahwa masa depan mereka terancam oleh bahaya yang sama, yaitu eksploitasi kolonial;
3. Alat untuk melaksanakan hal-hal tersebut (1 dan 2) ialah dengan membentuk suatu perhimpunan yang bersifat nasionalisme.
Maka berdirinya IP pada 6 September 1912 seolah merupakan pengejawantahan dari apa yang telah pimpinannya rencanakan lewat opini-opini di kedua mass media itu, dan tampak kini seakan IP merupakan kekuatan nyata untuk melaksanakan segala program yang telah diutarakan.
Tak heranlah jika berdirinya IP akhirnya memancing dan mengundang perhatian masyarakat luas, karena sejak berbulan-bulan sebelumnya mereka telah mengira bahwa organisasi semacam ini akan muncul dari orang yang selama ini mereka kenal sebagai cucu dari kakak tertua Ernest Douwes Dekker (Multatuli, pengarang Max Havelaar) yang keberpihakannya pada kaum bumi putera tak diragukan lagi.
Kini, setelah IP eksist di tengah kanca politik, organisasi itu pun secara bebas dan terbuka menyiarkan propaganda partai, disisipi pula dengan tulisan dan opini-opini yang membangkitkan rasa cinta tanah air kepada semua Hindia Putera, dan ajakan menggalang kerjasama yang erat antara mereka demi kemerdekaan yang tengah diperjuangkan. Tak urung pula di dalam harian dan bulanan itu para pemimpinnya membeberkan cita-cita politiknya, bercampur dengan kecaman-kecaman terhadap poltik pemerintah.
Dr. Tjipto dan Suwardi Suryaningrat
Seluruh apa yang disuarakan IP lewat berbagai macam cara itu agaknya bersesuaian benar dengan jiwa dr. Tjipto Mangunkusumo yang sejak 1909 meninggalkan Budi Utomo akibat perbedaan paham dengan dr. Radjiman Wedjodipuro. Dokter yang berwatak keras dan tak pernah kenal takut itu telah lama menahan diri untuk berpolitik tegas, dan meng-inginkan adanya perhimpunan seperti IP. Agaknya dr. Tjipto tidak sendiri. Ia mendapat dukungan moril dari sahabatnya, Suwardi Suryaningrat, bangsawan dari Pura Paku-alaman, Yogyakarta, yang berwatak keras dan tegas namun amat lembut dalam penam-pilan.
Kedua orang yang dikenal sangat revolusioner itu sangat berkenan di hati Douwes Dekker sehingga menyambut keduanya ketika menyatakan diri berniat menggabung dalam IP. Sehinggalah sejak Desember 1912 ketiganya menjadi pengurus harian De Express, dan koran itu pun berubah haluan menjadi nasionalistis-revolusioner sesuai dengan watak pengendalinya terhadap persoalan Hindia.

Sumber : http://www.luthfieel-rahma.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar